Cerita yang dituangkan dalam sinetron memang murni fiksi. Setiap episodenya merupakan cerita imajinasi. Namun esensi ceritanya tetap tidak lepas dari kisah sejarah aslinya. “Cerita Jaka tingkir sendiri merupakan sejarah, bukan dongeng. Tapi memang dalam sinetron ini kisah perjalanan yang digambarkan merupakan fiksi.
Beberapa bagian cerita, serta tokoh-tokoh pendamping yang memang merupakan bagian sentral dari sejarah, diungkapkan sebagaimana mestinya. Sehingga nilai sejarahpun tidak menjadi bias. Misalnya seperti cerita dimana Jaka Tingkir mengabdikan diri kepada kerajaan Demak. Sementara bagian fiksi, ditambahkan sebagai daya tarik bagi para pemirsa untuk mengikuti alur ceritanya.
“Rangkaian perjalanannya memang panjang, namun pada akhirnya nanti akan kembali lagi kepada cerita sejarah yang berlaku,” ujar Joko lagi. Secara garis besar sinetron ini memang lebih banyak menyuguhkan kisah-kisah kepahlawanan Jaka Tingkir saat mengalahkan musuh-musuhnya yang jahat. Kisah demi kisah kepahlawanan Jaka Tingkir inilah yang sebagian besar merupakan bagian fiksi dalam sinetron ini. Seolah sebagai pengantar dan perjalanan hidupnya yang sesungguhnya sesuai dengan bagian sejarahnya, yaitu sebagai prajurit Demak.
Kebaikan vs KejahatanBila menyimak kisah sesungguhnya, Jaka tingkir memang mempunyai kepribadian serta sikap yang tak jauh berbeda dengan yang dituturkan melalui sinetron. Kisah boy wonder dari desa Tingkir yang memerintah wilayah Demak sampai memindahkan Demak ke Pajang. Tak salah bila setiap episodenya selalu memberikan cerita yang mengetengahkan sosok jagoan Jaka Tingkir.
“Seperti umumnya sinetron laga, kebaikan akan mengalahkan kejahatan. Sisi kepahlawanan dari sang jagoan ini memang selalu ditonjolkan. Makanya selain cerita, adegan perkelahian serta efek-efeknya sangat dibutuhkan untuk mendukung kesuksesan sinetron ini,” ungkap joko lagi.
Joko pun menambahkan, kalau di setiap episode memang selalu dituntaskan. Dalam artian Jaka Tingkir akan menghadapi suatu konflik, dimana ia akan berhadapan dengan musuh baru. “Ini kan merupakan serial, jadi setiap ceritanya itu selesai. Setiap episode selalu ada tokoh baru yang kita munculkan. Begitu pula dengan musuh-musuh yang dihadapi oleh Jaka Tingkir,” cerita Joko.
Namun dari semua musuh yang ada, ada musuh sejati yang selalu berusaha menaklukan Jaka Tingkir. Dialah Aryabajageni yang mengaku sebagai jelmaan Syekh Siti Jenar, walaupun ia sebenarnya hanya muridnya saja. Aryabajageni adalah keturunan bangsawan Majapahit yang mulai runtuh. Cita-citanya adalah mengkhancurkan Kerajaan Demak dan membangun kembali Majapahit baru. Tidak hanya itu, ia selalu menebarkan rasa dendam dan kebencian di antara para wali, terutama Sunan Kudus. Itulah yang sebenarnya yang menjadi musuh sejati Jaka Tingkir yang memang berusaha mempertahankan Kerajaan Demak serta menegakkan tonggak agama islam, sesuai ajaran yang diterima dari sang guru, Sunan Kalijaga.
Pertemuan Jaka Tingkir serta Aryabajageni menjadi suatu laga yang seru yang dinanti. Selalu ada cara serta trik baru yang dilakukan oleh Aryabajageni untuk menghancurkan Jaka Tingkir. “Aryabajageni akan muncul secara berkala, tidak setiap episode,” kata Joko.
Selain dari musuh yang selalu berganti, kelebihan lainnya dari sinetron laga ini adalah kemunculan monster yang mempunyai kekuatan luar biasa. Kalau dalam kisah sesungguhnya tentu saja monster-monter itu tidak pernah ada. “Ini memang menjadi salah satu daya tarik yang kita berikan. Karena selain laga, penciptaan monster dengan efek-efek yang khusus tentunya memberikan daya tarik tersendiri,”jelas Joko lagi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar